Saatnya Nasyid Unjuk Diri
HEAL The World, lagu kondang Michael Jackson itu dibawakan oleh kelompok nasyid. Itulah yang terjadi pada pembukaan Festival Nasyid Indonesia di Istora Senayan, Jumat (15/10) malam, dan ditayangkan langsung oleh Indosiar. Boleh jadi ini merupakan perkembangan nasyid untuk makin mendekatkan diri dengan publik yang terkondisi oleh musik pop.
NASYID, lagu pujian dan syiar itu, mulai meriah pada bulan Ramadhan. Kelompok nasyid biasanya terdiri dari kumpulan empat atau delapan vokalis pria yang dari sisi visual sepintas mengingatkan pada format boysband. Sepanjang bulan Ramadhan dan sekitar hari Idul Fitri, nasyid marak di televisi. TV7 dan Indosiar bahkan menyelenggarakan festival nasyid. Kedua acara itu dikemas seperti reality show pencarian bakat baru semisal Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idol, dan sejenisnya. Apakah ini bisa menjadi indikator semakin populernya nasyid di kalangan muda?
TV7 menggelar festival nasyid yang digabung dengan tausyiah atau penyampaian hikmah/nasihat, serta qira’ah atau pembacaan Al Quran. Acara itu dinamakan sebagai Festival Nasyid Tausiyah dan Qira’ah (FNTQ). Sementara Indosiar bekerja sama dengan panitia Festival Nasyid Indonesia mengadakan acara Festival Nasyid Indonesia (FNI).
Seperti pada acara reality show pencarian bakat, FNTQ dan FNI menggunakan sistem audisi untuk penyaringan peserta. Kemudian ada peserta yang gugur atau pulang. FNTQ yang diikuti 20 grup nasyid menerapkan sistem gugur hingga akhirnya akan tersisa tujuh kelompok finalis. Dari jumlah itu akan diambil tiga pemenang versi dewan juri. Hasil penilaian juri dapat langsung diketahui penonton lewat papan angka.
FNI, yang menampilkan 10 kelompok nasyid, setiap minggunya akan memulangkan dua grup. Pada grand final nantinya hanya akan tersisa empat grup.
Dua acara tersebut juga melibatkan pemirsa untuk ikut memilih penampil terbaik lewat layanan pesan singkat (SMS). Dalam FNTQ partisipasi penonton itu akan menentukan seorang pemenang favorit.
FNTQ dan FNI juga mengundang komentator. Penyanyi Yana Yulio, misalnya, menjadi komentator pada FNTQ. Yana yang kebetulan berpengalaman dalam hal olah vokal lewat Elfa’s Singers itu antara lain mengusulkan pengubahan tata harmoni pada salah satu peserta dan ternyata hasilnya lebih manis.
Upaya untuk berinovasi dengan nasyid muncul dalam konser FNI. Setidaknya dua peserta berusaha memasukkan unsur rap dalam lagu yang mereka bawakan. Pilihan pada lagu Heal The World mungkin juga merupakan upaya pembaruan itu.
Sebagian peserta dari dua kontes itu tampaknya masih perlu banyak berlatih soal olah vokal dan penampilan sebelum muncul untuk ditonton publik berskala nasional. Jika Trie Utami dilibatkan pada kontes ini, mungkin akan banyak istilah pitch control yang diucapkannya.
Salah satu peserta yang melantunkan Jagalah Hati lebih mendasarkan diri pada kemampuan vokalis utamanya, sementara anggota grup lainnya terkesan kurang mendapat porsi memadai. Lagu Rindu Rasul yang dinyanyikan salah satu peserta konser FNI tak berhasil memberi interpretasi personal.
Tata panggung, penari, sampai munculnya Raihan, kelompok nasyid asal Malaysia, seharusnya bisa menjadikan konser FNI menarik pemirsa. Bagaimanapun mereka telah melangkah dan bakal menjalani pelatihan seperti acara reality show pencarian bakat lainnya.
Peserta FNI, misalnya, menjalani semacam program pesantren kilat. Mereka antara lain mendapat arahan dari Aa Gym, Ari Ginanjar, dan Arifin Ilham. Selain itu, peserta, disebut kafilah, mendapat latihan vokal dan gerak. Peserta FNTQ juga mendapat pelatihan hampir serupa.
FNTQ dan FNI menjadi salah satu indikator pertumbuhan nasyid di Indonesia. Audisi yang diadakan FNTQ, misalnya, diikuti sekitar 100 kelompok nasyid. Jika tidak dibatasi, peserta audisi bisa mencapai lebih dari 300 kelompok. Mereka berasal dari berbagai kota, seperti Makassar, Medan, Palembang, Lampung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan sejumlah kota di Jawa Barat seperti Cianjur, Sumedang, Ciamis.
Nasyid memang berkembang pesat di Indonesia belakangan ini. Supriyanto, Ketua Panitia FNI mencatat, sekitar lima tahun peserta festival nasyid masih terbatas dari kalangan pesantren. Kini festival mampu menghadirkan peserta dari sepuluh kota dan di antaranya dari organisasi kepemudaan, termasuk, misalnya, remaja masjid.
Dari festival tersebut penyelenggara FNI mengharapkan muncul inovasi nasyid, terutama dalam tata vokal serta penggarapan musik. Untuk itu, mereka dibebaskan memberi tafsir lewat penggarapan musik dan vokal. "Justru perkembangan itulah yang kami harapkan agar nasyid bisa diterima kalangan lebih luas," kata Supriyanto.
NASYID mulai populer di Indonesia sekitar tahun 1995-an, yaitu setelah munculnya Raihan. Sebelum itu, pada tahun 1991, di Indonesia sebenarnya sudah ada sebuah kelompok nasyid yang terdiri dari mahasiswa Universitas Indonesia. Kelompok itu merupakan embrio dari apa yang kemudian dikenal sebagai Snada. Bahkan pada tahun 1987 telah ada grup Nasyid Tauhid yang dirintis Hidayat Rohim dan kawan-kawan.
Snada mencoba membawa pembaruan kemasan dan penampilan sebuah kelompok nasyid. Jika penasyid sebelumnya tampil dengan gaya duduk dan membaca teks, maka Snada tampil dengan gaya lebih berkesan muda. Mereka tampil berdiri dengan gaya panggung yang akrab dan komunikatif.
"Kami ajak audience untuk nyanyi. Ada juga joke dan kuis," kata Alamsyah Agus, salah seorang personel Snada.
Dalam tata vokal, Snada pun mulai menggunakan harmoni rapat yang mengingatkan pada bentuk acapella. Mereka mengemas diri sebagai semacam musik vokal. Seperti diakui Al, panggilan akrab Alamsyah, Snada menggunakan referensi standar pada kelompok seperti Boyz II Men sampai Neri per Caso.
Agar lebih terkesan dinamis, Snada juga mulai mengubah penampilan. Mereka, misalnya, tidak hanya mengenakan baju koko, tetapi berpakaian gaya anak muda sehari-hari.
"Kami waktu itu sempat dicap sebagai boyband. Tapi intinya kami bernasyid sebagai seni untuk mengajak orang berbuat kebaikan. Warna kita adalah humanis religius," kata Al.
Pendekatan tersebut berhasil meluaskan publik Snada. Album Neo Shalawat keluaran tahun 2002, misalnya, mendapat platinum. Artinya, album tersebut terjual sampai 150.000 keping. Album tersebut kini telah mencapai angka penjualan sekitar 400.000 keping.
Snada yang kini terdiri dari Al, Ikhsan Nur Ramadhan, M Iqbal Taqiuddin, M Lukman, Erwin Yahya, dan Teddy Tardiana itu kini malah masuk pasaran Malaysia lewat album Dari Jakarta Ke Kualalumpur terbitan tahun 2003.
Pendekatan lebih ngepop seperti yang ditempuh Snada memang diharapkan penggiat nasyid. Dengan cara demikian nasyid akan lebih dikenal luas. Pada gilirannya hal tersebut akan meluaskan syiar agama. Seperti dikatakan Supriyanto, lirik nasyid yang bernuansa Islam itu bisa sekaligus berfungsi sebagai dakwah.
"Seharusnya nasyid tidak hanya populer pada bulan Ramadhan saja karena dakwah itu bisa dilakukan kapan saja,"katanya.
Sementara ini maraknya nasyid di televisi masih sebatas pada hari besar keagamaan. Di Malaysia kelompok nasyid seperti Raihan telah diperlakukan sebagai grup pop yang bisa tampil di televisi tanpa menunggu hari besar tiba. (XAR/CP) (www.kompas.com - 17 oktober 2004)
0 komentar: