Sabtu, 05 September 2009

Nasyid Hanya Trend Sementara


Sebuah genre seni, ketika mendapat antusiasme dan apresiasi publik yang besar dan lebih lagi ketika juga budaya industri turut membangun citraan-citraannya sebagai sebuah kemasan atau komoditas, maka ketika itu pula seni tersebut telah menjadi semacam tren. Sebuah fenomena yang banyak ditemukan dalam perkembangan berbagai genre seni, terlebih lagi musik. Sebagai tren, fenomena tersebut sering kali hadir sebagai sebuah gejala sementara. Di lain pihak, budaya industri itu memang sendiri sentiasa mencari atau membentuk tren-tren berikutnya dalam setiap perkembangan waktu sehingga kesementaraan itu semakin kuat. Kenyataan terakhir ini tak bisa dielakkan. Bagaimanapun, budaya industri memiliki pengaruh yan kuat dalam menyebarkan sebuah genre seni, dan membentuk selera publik terhadapnya.

Nasyid sebagai genre seni, sebagai sebuah fenomena yang mengggejala kuat akhir-akhir inidi berbagai kota di Indonesia, terutama di kalangan anak-anak muda agaknya bisa diteropong dari kenyataan tersebut. "Secara bentuk musik, nasyid telah bisa dikategorikan sebagai musik tren. Ia sekarang sudah berada di wilayah industri, diperdagangkan. Oelh karena itulah, nasyid hanyalah sebuah tren sementara," ujar musisi senior Harry Roesli.

Pandangan ini juga berangkat dari kenyataan bahwa kesenian sebagai sebuah wilayah kreatif memang tak pernah berdiam di suatu bentuk pengungkapan, demikin pula antusiasme dan respons publik terhadapnya. Setiap zaman selalu menghadirkan bentuk-bentuk seni yang berbeda, yang kemudian menjadi tren. Demikian pula dalam genre musik yang bertemakan keagamaan. Dari mulai gambus, kasidah, hingga nasyid seperti sekarang. Terlebih lagi ketika mendapat sentuhan budaya indsutri.

"Tetapi, subtansi religiusnya akan terus ada, seperti tampak pada zamannya Bimbo atau masa-masa sebelumnya, kasidahan atau gaya vokal grup seperti Patria Pak Ading Affandi dulu. Secara bentuk, musikalitas nasyid hanya tren sementara. Tetapi, lagu-lagu religius sampai kapan dan dimanapun tak akan pernah mati. Meski teknik musiknya mengalami perubahan," tandas Harry lagi, seraya menambahkan bahwa karena itulah nasyid jangan dianggap sebagai satu-satunya musik Islami.

"Lagu-lagu religius seperti itu bukan hanya nasyid. Nasyid hanya salah satu gaya musik bermusik religius," ujar doktor musik dan mantan Ketua Jurusan Musik IKIP (kini UPI) Bandung ini.

Penggebirian pada keberagaman

Tradisi budaya industri, dengan seluruh kemasannya memang memiliki kecenderungan yang bergerak ke arah penyeragaman. Penyeragaman yang terjadi tidak hanya sekadar berada di wilayah praktik-praktik seni para kreator, dimana karya mereka semua nyaris menjadi sama warna dan karakternya. Tetapi, juga terjadi di wilayah respon publik, yang lantas berimbas pada semacam pengidentifikasian dengan parameter apa yang sedang menjadi tren.

Tradisi budaya industri memang memiliki kekuatan yang lain, yakni menjebak dan membatasi persepsi kita menurut apa dan bagaimana seni itu dikemas. Lihatlah, bagaimana media massa televisi mengemasnya lewat budaya visual (visual culture) atau budaya tontonan, dari mulai dangdut hingga nasyid. Penampilan kelompok nasyid seperti Raihan yang demikian santun, dengan baju takwa dan performance mereka yang rapih dan manis, telah membentuk suatu citraan tentang identifikasi seni Islami.

Keadaan ini jelas berisiko pada terlupakannya keberagaman. Risiko ini bukan tidak mungkin terjadi di balik tren fenomena nasyid yang diidentifikasi sebagai seni atau musik Islami. Karena itulah, seperti yang disebutkan Harry Roesli, nasyid haruslah dilihat sebagai salah satu ragam dari musik Islami, dan bukan satu-satunya.

Sependapat dengan Harry, pengamat seni dan salah seorang anggota senior Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), Aat Suratin memandang bahwa fenomena dan tren nasyid yang terjadi seperti sekarang hanyalah gejala sementara. Namun, Aat lebih menyebutnya sebagai harapan yang sekaligus juga menjadi kecemasan bahwa tren dan fenomena nasyid akan menutup peluang bagi keberagaman ekspresi musik-musik Islami yang lain.

"Saya berharap ini hanya gejala sementara sebab kalau tidak ini akan menjadi pengebirian pada keberagaman warna musik religius Islami yang lain. Ini berbahaya karena nanti jangan-jangan pengidentifikasiian semacam ini akan menganggap jenis musik selain nasyid sebagai musik yang tidak Islami."

Kecemasan Aat Suratin rasanya terlalu berlebihan. Akan tetapi, juga sebaliknya membayangkan argumen yang logis. Musik sebagai ekspresi seni bagaimanapun juga adalah sebuah kata kerja. Di dalamnya berlangsung berbagai eksplorasi kreatif yang identifikasinya tak bisa dengan begitu saja diklaim dan diidentifikasi menurut salah satu jenis musik.

Terlebih lagi ketika identifikasi itu merujuk pada identifikasi religius, seperti penamaan "Islami". Seni sendiri sebagai sebuah bentuk, dalam konteks ini menghendaki pola pembacaan yang sifatnya univesal. Dengan kata lain, keindahan sebagai bentuk adalah milik manusia seluruhnya, lepas dari soal bentuk mana yang dianggap sesuai dengan pilihan setiap orang.

"Kalau kita bicara tentang apa yang disebut musik Islami, jelas kita harus bicara tentang soal estetika. Estetika itu harus berangkat dari telaah rasa dan pikiran manusia. Jadi, sangat sulit sekali menemukan hubungannya dengan aspek moralitas atau religiusitasnya. Yang mencirikan sesuatu musik Islami atau bukan itu bukan pada bentuk musikalitasnya tetapi pada etikanya. Jadi, kalau etikanya itu Islami, jenis musik apapun akan menjadi musik Islami," ujar Aat. Ia mengatakan musik rock sekalipun jika secara esensial lirik-liriknya mengajak orang pada kebenaran yang sesuai dengan ajaran Islam, sangat sulit untuk tidak menyebutnya sebagai musik islami.

Musik dengan berbagai warna dan jenisnya, bagaimanapun memang hanyalah bentuk yang akan terus berganti dalam perkembangan serta perjalanan waktu dan ruang, untuk lalu menjadi tren pada setiap masa, setiap generasi. Namun demikian, selera pilihan orang pada satu bentuk jenis musik tertentu bukanlah juga tanpa alasan. Pilihan dan kecenderungan selera pada satu jenis musik, dengan kata lain, bukanlah soal yang berdiri sendiri.

Di lain sisi adalah juga suatu kenyataan bahwa setiap jaman memiliki tantangan dan situasinya sendiri. Itulah hukum besi sejarah. Setiap zaman akan merefleksikan berbagai ekspresi kesadarannya pula. Termasuk didalamnya adalah selera atas seni tertentu. Lebih lagi seni selau dianggap sebagai medium paling tepat untuk mengekspresikan penghayatan atas suatu kesadaran. Lebih lagi penghayatan dan kesadaran atas sesuatu yang dianggap tinggi dan suci, yakni keagamaan seperti yang tampak pada fenomena dan tren musik nasyid. Fenomena dan tren ini bukanlah sesuatu yang baru. Nasyid hanyalah bagian dari perkembangan khazanah tradisi musik di Indonesia yang bernafaskan keislaman, yang oleh berbagai sebab tengah mendapat "giliran" menjadi tren di tengah masyarakat, seperti juga yang pernah dialami oleh berbagai jenis musik islami lainnya. Pada suatu masa nanti akan lahir fenomena tren-tren musik islami berikutnya sehingga menunjukkan sebuah mata rantai keberagaman.

Harry Roesli (ahda).

0 komentar: